"Semua mimpi kita dapat terwujud,asalkan kita punya keberanian untuk mewujudkannya" - Walt Disney
Tampilkan postingan dengan label A Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label A Story. Tampilkan semua postingan
Kamis, 27 Februari 2014
Kamis, 07 November 2013
NARRATIVE TEXT
THE BEE AND THE DOVE
One day, a bee was flying across a lake. Suddenly there was high
wind. A bee fell down into the lake. His wings got wet. Now he could not fly
up. He was sure to die.
Meanwhile, a dove was sitting on near a tree. She saw the bee
struggling. She plucked a leaf from the tree. She held the leaf in her beak and
flew out. She dropped the leaf near the bee. The bee slowly got on to the leaf.
He shook his wings. Then he thanked the
dove and flew away.
A few days later, a boy was aiming his slingshot at the dove. The
dove was asleep. Her eyes were closed. She didn’t know about the danger. The
bee saw the boy. He flew out to the boy. He stung the hand that held the
slingshot. The boy dropped his slingshot and cried. The boy’s cry woke up the
dove. She thanked the bee for saving her live and flew away.
One day, the tree on which the bee and friends lived fell down. They
were so upset. They lost their mansions. One of them cried. The dove heard the bee’s
friend cry. She came to the bee’s house and asked the bee what happened to his
house. The bee told the dove.
After that, the dove offered the bee and friends to live together
with her in a big tree. They agreed it. They moved to the big tree. The dove lived in a
hole of big tree and the bee and friends made a nest on one of the big branches
of the same tree. Both the bee and the dove were not only neighbour but also
friend. They often flew to some places together.
One morning, the boy came back to aim the dove again. He didn’t
come alone. He came with his friends. When the boy aimed his slingshot, the
dove was eating. She enjoyed her food. So that, she didn’t know about the
danger. At that time, the bee and friends flew to the flower garden to find
some food for breakfast. The boy had succeeded to aim the dove. The dove fell
down from the tree.
When the bee got home, he found the bee unconscious in the land. He
saw the boy aimed the dove. He was angry. He called his friends to sting the
boy and friends. The bee and friends flew out to them and sting their face and
hand. The boy and friends dropped their slingshot and cried in great pain. They
ran away from the place.
The bee helped the dove and tried to treat her injury. He took care
the dove patiently. Several days later, the dove got better. The dove thanked
the bee and friends for saving her life again. The dove and the bee had been
best friend ever since. They lived happily ever after.
CERPEN PERSAHABATAN
MATAHARI JINGGA
Karya Amira
Hari itu hujan, hujan yang
sangat lebat. Aku bersiap pergi ke sekolah. Matahari tertutup awan hitam
sehingga pagi itu terlihat seperti malam. Aku akan berangkat ke sekolah bersama
Lisa. Ia sudah membuat rencana tadi malam.
Setelah lebih dari 20
menit menunggunya di halte, dia tidak juga terlihat. Aku memutuskan untuk pergi
atau gerbang sekolah tidak akan terbuka lagi untukku. Dalam hati aku bersungut
“Apa yang terjadi padanya? Jika aku bertemu dengannya di sekolah nanti, aku
bersumpah akan memukul pundaknya dengan buku.”
Ketika aku akan naik ke dalam angkutan umum, aku melihat seorang gadis yang kira-kira usianya 1 tahun lebih tua dariku duduk di halte. Ia mengepal erat kedua tangannya. Ia kedinginan. Aku tak dapat menangkap seperti apa rupanya karena di sana benar-benar gelap, apalagi aku sudah masuk ke dalam angkutan tersebut. Ahh .. sudahlah. Ia bukan siapa-siapa.
Ketika aku akan naik ke dalam angkutan umum, aku melihat seorang gadis yang kira-kira usianya 1 tahun lebih tua dariku duduk di halte. Ia mengepal erat kedua tangannya. Ia kedinginan. Aku tak dapat menangkap seperti apa rupanya karena di sana benar-benar gelap, apalagi aku sudah masuk ke dalam angkutan tersebut. Ahh .. sudahlah. Ia bukan siapa-siapa.
Bel telah berbunyi 10
menit yang lalu, tapi gerbang belum ditutup. Mungkin sekolah memberikan
dispernsasi di hari hujan seperti ini. Aku sampai di kelas dan kulihat Lisa
tengah duduk sambil menikmati novelnya. Ia tak menyadari kedatanganku.
Buru-buru aku keluarkan buku geografi yang tebalnya seperti kasur kamarku agar
aku bisa memukulnya.
“Aduuuhhh… apaan sih?”
Lisa merintih. Ia tidak tau kalau aku yang memukul pundaknya.
“Apa maksudnya membiarkan
aku sendiri di halte. Menunggu seperti orang idiot?” aku berkecak pinggang.
“Maafin aku, Nad. Tadi
aku diantar ayah karena hujan. Aku juga lupa kalo aku punya janji pergi
bersamamu. Maafin aku ya.” Ia memasang wajah sedih dan aku pun memaafkannya.
Pelajaran perama
berakhir. Dan hujan pun turun semakin lebat. Aku tak tahan dengan situasi seperti
ini. Aku mengantuk dan aku rasa semua yang ada dikelas ini pun begitu. Bel
istirahat berbunyi. Aku dan Lisa enggan beranjak dari meja. Lisa bahkan tidak
mau mengangkat wajahnya dari jaket yang ia gunakan sebagai bantal.
“Mana jaket mu Nadine?
Aku pinjam.” Perkataan Lisa tadi membuatku tersadar bahwa sedari tadi jaket yang
aku bawa sekarang hilang. Ya ampun kenapa aku begitu bodoh. Melupakan benda yang
sangat penting di hari hujan seperti ini.
“Aku lupa di mana
meletakkannya. Tadi sepertinya waktu aku menunggumu di halte, jaketnya masih
aku pegang.”
“Mungkin tertinggal di
angkutan umum. Atau tertinggal di halte.” Benar juga apa katanya.
“Ya sudahlah. Mungkin
benda itu sudah menjadi milik orang lain.
Bel pulang berbunyi. Aku dan Lisa pulang bersamaan.
Bel pulang berbunyi. Aku dan Lisa pulang bersamaan.
Keesokan harinya, hujan
masih turun karena ini memang musim hujan. Kali ini aku memang pergi sendiri ke
sekolah karena Lisa masih juga diantar ayahnya. Aku duduk di halte menunggu
tumpanganku. Ketika aku melihat ke arah jalan, muncul seorang gadis yang basah
kuyup. Tangannya memegang sesuatu yang aku kenal. Itu jaketku. Aku melihat ke arahnya.
Gadis itu, gadis yang kemarin aku lihat di halte ini. Kali ini wajahnya jelas
terlihat di hadapanku. Ia mengulurkan jaket yang di pegangnya.
“Ini punyamu?” suaranya
serak. Hampir tidak terdengar. Tidak ada ekspresi apapun yang keluar dari
wajahnya. Aku masih belum bisa mengatakan apapun. Tangan, badan serta kakiku
dingin.
“Jawab aku. Ini punyamu
atau bukan?” kali ini ia membentak. Suaranya melengking ke telinga. Aku takut.
Sangat takut. Akhirnya aku menganggukkan kepala. Ia melemparkan jaketku ke
tanah. Lalu ia duduk di sampingku. Aku bertanya-tanya mau apa anak ini. Sialnya
aku tak menemukan satu orangpun di sini selain dia. Dan yang lebih sialnya
lagi, ia memandangiku terus. Entah apa yang ia mau dariku. Aku memberanikan
diri untuk berbicara.
“Terima kasih.” ucapku
dengan senyum. Ia tidak membalas. 1 menit kemudian ia berbicara.
“Di mana kau
bersekolah?”
“Aku bersekolah di SMA
R.A Kartini.” Ia diam lagi. Aku melihat tangannya menggenggam satu sama lain,
lalu sesekali menggosokkan telapak tangannya.
“Kau kedinginan. Aku
bawa jaket 1 lagi. Kau mau?” Ia diam lagi, lagi dan lagi. Ia menatapku lagi
sambil mengangguk. Aku memberikan jaket yang ada di tasku padanya. Akhirnya
angkutanku telah datang, tapi rasanya tak ingin ku tinggalkan tempat itu.
Melihatnya kedinginan di halte, sungguh aku malas berangkat sekolah.
“Hey… siapa namamu?”
seruku.
“Aku Myra” lalu ia pergi
dalam hujan. Ia masih memakai jaketku.
Kali ini aku datang
lebih awal dari Lisa. Teringat saat pertama aku jumpa anak di halte tadi. Ohh...
namanya Myra. Nama yang indah didengar. Kelihatannya ia anak baik. Tapi kenapa
ia tidak bersekolah? Atau mungkin ia telah selesai? Entahlah. Semoga besok aku
berjumpa dengannya lagi.
Bel berbunyi dan tepat
pada saat itu Lisa datang. Ia terlihat sangat manis dengan jaket coklatnya.
Anak itu memang manis menggunakan pakaian apapun. Bahkan baju tidur sekalipun.
“Hey, Nad. Karena hujan,
mobil ayah macet. Semua orang ingin cepat. Tergesa-gesa seperti segala sesuatu
harus diselesaikan hari ini juga. Kasihan ayah yang harus terlambat ke lapangan
karena aku.” Wajahnya tak bisa ku gambarkan. Antara sedih, capek, marah dan
lucu.
“Duduklah Melisa. Kau
terlihat cantik hari ini. Jangan buat penampilanmu jadi bodoh. Guru kita
sepertinya tidak hadir. Mau ke kantin?” aku berusaha menenangkannya. Ia tersenyum
dan mengangguk.
Aku berharap matahari
segera pulang dan berganti bulan. Lalu bulan pun pulang dan berganti matahari
lagi. Agar aku bisa berjumpa Myra. Kalau ia ada disana.
~~~
Pelajaran matematika
adalah salah satu pelajaran yang paling ampuh untuk membuatku segera tidur,
karena tidak ada pelajaran lain yang bisa membuat mataku sayu atau tertutup
sama sekali kecuali dia. Jam bergerak ke angka 11 dan aku sudah mulai
mengantuk. Ku tutup buku matematika-ku lalu mengambil I-Phone. Aku memutar lagu
Christina Perri-A Thousand Years yang ku senangi. Aku pun tertidur.
Alarm itu
membangunkanku. Ku singkap tirai jendela, hari masih hujan tetapi hanya
sedikit. Tidak separah semalam. Dengan semangat aku bangun, mengambil handuk,
menuju kamar mandi, berpakaian, berdandan dan semua itu ku lakukan dalam waktu
20 menit. Sengaja aku mau pergi cepat hari ini agar bisa ngobrol dengan Myra
lebih lama. Entah apa yang membuatku tertarik padanya. Mungkin karena sifatnya yang
misterius. Jadi mulai hari ini aku putuskan untuk bersifat misterius agar orang
tertarik padaku.
“Ma, Nadine berangkat.
Nanti pulangnya agak lama ya ma, karena ada ekskul badminton. Assalamualaikum”
seruku tanpa mendengar jawaban dari mama. Aku berlari untuk sampai ke halte yang
biasa aku singgahi. Sesampainya di sana aku tak menyangka ia duduk di situ
dengan jaket yang kuberikan kemarin.
Ia menjulurkan tangannya
dan memberikanku jaket itu. Aku tersenyum lalu berseru “Tak apa. Simpan saja
jaket itu. Aku punya 2 kok. Anggap saja ini ucapan terima kasihku.”
“Baiklah kalau begitu.
Aku juga tidak tau apa fungsi dari benda ini.” Jawabnya.
Aku tercengang sekali. “Apa?
Ini namanya jaket. Kata itu berasal dari bahasa inggris yang artinya ‘sebuah
benda yang terbuat dari kain atau kulit bulu yang digunakan untuk melindungi
diri dari hujan dan panas’. Kau mengerti?”
“Apa buruknya hujan. Aku
tiap hari bermain hujan. Pergi sesukaku tanpa benda yang kau beri tadi. Dan
sampai sekarang aku tidak kenapa-kenapa. Bahkan aku pun tak pernah mendengar
berita di koran atau radio kalau ada anak seusiaku mati dikarenakan hujan”
jawabnya ketus. Tapi pemikiran nya masuk akal juga buatku.
“Ya sudahlah terserah
padamu saja. Tapi aku yakin suatu hari nanti kau membutuhkan benda itu.”
“Siapa namamu?”
tanyanya.
“Aku? Aku Nadine. Kau?”
Betapa bodohnya pertanyaanku tadi.
“Sepertinya aku telah
memberitahukan namaku padamu kemarin. Aku Myra. Panggil saja Mey.” Nama asli
dan nama panggilannya kurang pas. Myra dan Mey.
Aku terdiam. “Namaku
April.” Dan lagi aku mengulang pernyataan yang tadi telah ku buat. Kenapa aku?
Kenapa tiba-tiba aku jadi bodoh? Ia melihat kearahku dan mengangkat kedua
alisnya. Pertanda ia bingung.
“Kenapa tiba-tiba kau
mengganti namamu? Bukankah tadi Nadine?”
“Oohh... iya ya. Nama
asliku adalah Nadine Aprilia Kirana. Tadi kau telah menyebutkan namamu Mey.
Jadi biar kau selalu ingat namaku, pangil saja aku April. Kan nama kita berdekatan.
Mey dan April. Begitu.” Jelasku. Kelihatannya ia sudah mengerti.
“Seperti nama bulan.”
“Di mana rumahmu?”
sekarang giliranku bertanya.
“Kau mau tau di mana
rumahku? Ikut aku sepulang kau sekolah. Aku akan ada di sini sekitar pukul 5.
Kau mau?”
“Tentu. Sekarang aku
pergi dulu. Angkutanku telah datang. Sampai bertemu pukul 5.” Seruku
bersemangat. Aku tersenyum senang. Tidak kusangka ia bisa juga ramah padaku.
Bel pulang sekolah
berbunyi pukul 2.30 dan aku masih ada ekskul badminton lagi. Ku selesaikan
semua jadwalku dengan cepat. Berharap pukul 5 segera datang.
Pukul 5 tepat ekskul pun berakhir. Tetapi tiba-tiba kakak pembina memberikan instruksi pada kami untuk membersihkan lapangan. Ya ampun aku tak mungkin bisa pulang. Aku meminta izin pada kakak pembina untuk memulangkanku lebih awal dengan alasan membantu mama membuat pesta Amir Agha, adikku. Tapi permohonanku ditolak.
Pukul 5 tepat ekskul pun berakhir. Tetapi tiba-tiba kakak pembina memberikan instruksi pada kami untuk membersihkan lapangan. Ya ampun aku tak mungkin bisa pulang. Aku meminta izin pada kakak pembina untuk memulangkanku lebih awal dengan alasan membantu mama membuat pesta Amir Agha, adikku. Tapi permohonanku ditolak.
Setelah semuanya bersih
aku pun segera pulang. Kulirik jam tanganku. Pukul 05.45. Aku terlambat 45
menit dari janji. Akhirnya aku sampai ke halte. Tidak ada seorangpun di sana.
Tiba-tiba aku melihat Mey berlari menghampiriku.
“Sudah 30 menit aku
menunggumu di sini tadi.”
“Maaf Mey. Tadi aku ada
ekskul diseko……”
“Sudah... cepat kita
pergi. Jangan banyak bicara. Nanti kita ketinggalan sesuatu.” Jawabnya sambil
menarik erat tanganku. Sangat sakit rasanya digenggam oleh dia.
Kami berlari hampir 15
menit. Sebuah rekor baru untukku. Mey mengajakku ke sebuah tempat di dekat
gunung yang aku tak tau apa namanya. Lalu kami mendaki lagi beberapa meter
hingga akhirnya kami sampai ke dekat laut. Tepat di bawah kami laut itu berada.
Aku merasa ngeri melihatnya. Apa yang akan dilakukan Mey di sini? Aku mulai
takut sekarang. Aku memandangi wajahnya heran. Ia masih belum juga melepaskan
genggamannya dari tanganku. Sementara tanganku rasanya perih sekali.
“Tenang saja, Pril. Aku
tak akan menjatuhkanmu ke laut itu. Ayo kita duduk. Percaya padaku, kau tak
akan jatuh.” Katanya dan aku menuruti.
“Tunggulah sekitar 5
menit lagi. Dan kau akan melihatnya.” Sambungnya. Aku tak mengerti apa maksud
perkataannya dari tadi. Di mana rumahnya? Aku bahkan tak melihat sebuah rumah
pun di sini.
Setelah 5 menit menunggu
akhirnya pemandangan indah pun nampak. Matahari yang akan pulang ke barat.
Langit gelap dan burung-burung pun pulang. Tebak apa warna mataharinya.
Warnanya jingga. Jadi ini yang sedang kami tunggu-tunggu dari tadi. Ternyata
benar. Sungguh itu sangat indah. Aku memandang wajah Mey. Dan untuk pertama kali
nya aku melihat ia tersenyum.
“Aku selalu ke sini
bersama ayah dulu. Setiap hari hampir gelap, kami mendaki gunung ini. Dan
pulang hingga malam hari.” Katanya senang.
Ia lalu menceritakan
semua tentang kejadian keluarganya. Ayahnya meninggal setelah ia berumur 8
tahun. Aku bertanya karena apa ayahnya meninggal tetapi ia sendiri pun tidak
tau. Sampai saat ini ia tidak pernah menemukan kuburan ayahnya. Lalu setelah
ayahnya meninggal, ibu Mey tak sanggup hidup sendiri. Ia bahkan tak mau
mengurusi Mey. Suatu malam ibunya pergi dengan sebuah mobil pick-up punya
tetangganya, meninggalkan Mey yang masih kecil. Esokya ia bertanya pada
tetangganya kemana ibunya pergi. Mereka bilang “Ibumu pergi kesuatu tempat,
Mey. Jauh di negeri sana. Kalau ia telah tua nanti baru ia akan pulang.” Lalu
mereka tertawa. Kemana ibunya? Ia pun tak tau hingga sekarang. Ia pun
meninggalkan rumahnya dan tinggal entah di mana.
“Aku biasa hidup di mana
pun aku mau. Aku akan bekerja pekerjaan apapun. Terkadang kita tak harus punya
rumah untuk bisa bertahan hidup.” Katanya. Jadi inti dari ceritanya adalah ia
anak yatim yang ditelantarkan oleh ibunya dan hidup entah di mana.
Sepertinya sudah cukup
petualanganku hari ini. Aku pun ingin pulang dan kami pulang bersama-sama.
Hari demi hari kami lalui
bersama. Aku pun merasa senang mengenal Mey. Ia baik dan jujur. Hanya saja ia
tinggal dijalanan dan tidak pernah sekolah. Kalau mama tau ia pasti akan marah.
Suatu hari aku pernah
bertanya pada Mey “Kenapa kau tidak sekolah Mey?”
“Siapa yang tidak ingin
sekolah? Semua orang mau. Hanya saja kesempatan ku belum datang.”
“Kalau kau tak
bersekolah apa cita-citamu?” Tanyaku lagi.
“Aku punya cita-cita
untuk membangun sebuah sekolah.” aku terkejut mendengarnya. Bagaimana bisa
seorang yang tidak pernah sekolah bisa membangun sebuah sekolah. Aku hampir
tertawa oleh kebodohannya.
“Kenapa kau tertawa? Aku
tau apa yang tengah kau pikirkan. Aku memang tidak pernah sekolah, tetapi
lingkunganlah yang telah mengajarkan ku. Bukankah Gustave Eiffel, perancang menara
Eiffel tidak suka belajar secara spesifik dan formal? Dan kau tau cerita
tentang Thomas Alfa Edison? Ia pernah tinggal kelas 3 kali dan dikeluarkan dari
sekolah karena ia sangat bodoh. Tapi siapa yang tau 12 tahun kemudian ia telah
menerangi dunia dengan penemuan lampunya?” jawabnya ringan dan kali ini aku
benar-benar terkejut mendenar jawabannya. Bagaimana bisa seorang anak yang
ijazah SD sajapun ia tidak punya tetapi tau tentang Gustave Eiffel dan Thomas
Alfa Edison. Jujur saja, aku sendiri pun tidak tau mengenai itu.
“Benar juga apa katamu
Mey. Maaf aku telah menghinamu. Aku menyesal.” Kataku sambil menundukkan kepala
sedalam-dalamnya.
“Tak apa. Aku tau kau
akan berpikir seperti itu. Mungkin ini pertemuan kita yang terakhir. Setelah
itu aku akan pergi.” Ucapnya.
“Apa? Kau mau pergi ke mana?”
“Aku akan pergi mencari
ibuku.”
“Ibumu? Kau sendiri tak
tau ia di mana. Jangan konyol Mey” sergahku.
“Aku tau. Tapi aku akan
tetap mencarinya. Aku tidak punya keluarga lagi di sini.”
“Kau bisa anggap aku sebagai
saudaramu Mey. Kau boleh tinggal di rumahku kapan pun kau suka. Tolonglah.
Jangan pergi. Pikirmu enak hidup di negara orang. Sulit Mey... sangat sulit.
Apalagi gadis seperti kau.” Aku hampir menangis mengatakan kalimat itu.
“Hah. Sudahlah Aprilia.
Aku baik-baik saja di sana. Keputusanku sudah bulat. Aku akan mencari ibuku.”
Kami berdua terdiam.
Lalu 2 menit keudian ia berbicara lagi
“Tenang, April. Kaulah
teman yang baru ku dapatkan selama 12 tahun ini. Hanya kau yang mau bermain
denganku. Hanya kau yang aku ajak ke tempat ini. Aku berjanji suatu hari nanti
kita akan bertemu. Di tempat ini juga. Melihat matahari jingga dan
burung-burung pulang. Lima tahun lagi. Ya, aku berjanji padamu. Lima tahu lagi
aku akan berada di sini, menunggumu datang. Tepat pada hari ini. Jam ini dan
menit ini. Percayalah.”
Sejak saat itu aku tak
pernah melihatnya lagi. Di halte pada pagi hari. Dan di gunung itu pada sore
hari. Ternyata benar, ia telah pergi entah ke mana. Aku tak tau hal apa yang
harus menghentikan setiap langkahnya. Ia aneh dan misterius. Terkadang ia
mengajarkan beberapa hal baru padaku. Setiap hari aku menunggunya. Berharap ia
pulang. Tetapi tetap saja ia belum ku lihat.
Aku teringat
perkataannya ‘Lima tahun lagi kita akan berjumpa di sini. Pada hari yang ini,
pada jam ini dan menit ini. Percayalah.’ Benar Mey. Aku akan menunggumu. Aku
ingin melihat seperti apa rupamu 5 tahun lagi. Apakah kau telah membangun
sekolahmu. Apakah kau masih tetap misterius seperti saat ini. Aku bersabar.
Baik aku akan menunggumu 5 tahun lagi di tempat ini. Benar Mey, 5 tahun lagi.
Jumat, 11 Oktober 2013
MONOLOG CINTA
Dia
merenung dalam bait tinta yang ditangkap lensa miliknya. Sepasang mata yang
bening itu bergerak-gerak kiri ke kanan. Dia cuba untuk memahami kata-kata itu.
“Cinta
bukan tujuan, tapi hanyalah jalan. Cinta itu bukan matlamat, tapi hanyalah alat…” – Ustaz A.Ubadillah Alias
Dahinya
dikerutkan. Keningnya dirapatkan. Tanda dirinya sedang memikirkan sesuatu yang
mengusik perasaan.
“Cinta
bukan tujuan. Tapi jalan. Cinta bukan matlamat. Tapi alat..” Bait tinta itu
bergema dalam sanubarinya.
“Apa
ertinya?” Dia bermonolog.
Lama dia
merenung. Sesekali, dia menghantar pandangan ke luar jendela. Dia menatap ke
arah langit. Cerah. Subhanallah, indah ciptaan-Mu – Burung-burung berkicauan,
tanda bertasbih kepada-Nya. Sang unggas bernyanyi riang, tanda memuji
kepada-Nya. Segala yang ada di langit mahupun di bumi sujud pada keEsaan-Nya.
Dalam asyik dia merenung keindahan ciptaan Tuhan, ada sesuatu yang mengusik
kalbunya.
Cinta. Ya. Dia tahu dia masih muda remaja. Dia tahu masih banyak tanggungjawab yang harus digalasnya. Dia tahu masih banyak impian yang belum diraihnya. Dia tahu, umi dan abinya mengharapkan sesuatu daripadanya. Dia tahu perjalanan hidupnya baru bermula. Dia tahu dia tidak seharusnya leka dalam cinta dunia. Dia tahu dan dia mengerti segala-galanya. Namun, entah mengapa setiap kali dia cuba mengusir satu rasa yang bertamu di dada, tiap kali juga dia kalah melawan perasaannya.
Ya
Allah, begitu kuat rasa itu hadir ke dalam kalbunya.
Apa yang
perlu dia lakukan? Langkah apa yang perlu dia aturkan? Strategi apa yang perlu
dia rencanakan?
Segala-galanya
kelihatan suram. Segala-galanya kelihatan tidak berjalan. Hatinya kembali
rawan. Mengapa dirinya tidak mampu melawan? Mengapa perasaannya seringkali
kecundang? Mengapa hatinya seringkali bermusuhan dengan apa yang dia fikirkan?
Hati dan akalnya tidak sehaluan.
Dia tidak mahu lemas dalam dakapan cinta yang melekakan. Dia hanya mahu lemas dalam dakapan cinta Tuhan. Tapi, makin kuat dia mencuba, makin kuat pula dia diduga.
Dia tidak mahu lemas dalam dakapan cinta yang melekakan. Dia hanya mahu lemas dalam dakapan cinta Tuhan. Tapi, makin kuat dia mencuba, makin kuat pula dia diduga.
Dia tahu, dia harus kuat menghadapinya. Dia tahu, dia harus melawan rasa cinta yang bertamu dalam hatinya. Dia tahu, dia harus mengusir rasa cinta pada manusia. Mengusir cinta bukan bererti membenci. Tetapi lebih kepada menjaga jarak antara dirinya dan dia. Hatinya cuma ada satu. Dia tahu, sakit rasanya apabila terluka. Pedih rasanya apabila kecewa. Pasti, dia akan berduka. Lalu, amanah yang dipertanggungjawabkan ke atasnya akan terbang dan hilang entah ke mana.
Dia
harus memilih. Ya. Memilih sama ada dia mahu terus berfantasi atau menjejak
realiti? Mahu terus berada dalam mimpi atau mahu menjejak bumi? Dia sedar.
Cinta manusia itu adalah sesuatu yang tidak pasti. Cinta yang hakiki adalah
berpaksikan pada DIA Sang Ilahi.
Dia juga
sedar, kehidupan kini penuh dengan ujian Ilahi. Jika iman tidak terus diasah,
maka dia akan tersungkur rebah. Jika akidah tidak terus dipelihara, maka dia
akan terus bergelumang dengan dosa. Jika ilmu-Nya tidak terus diteroka, maka
dia akan terus terleka dalam arus dunia. Dia juga sedar. Perjalanannya masih
jauh. Banyak lagi yang harus ditempuh. Jika ujian sebegini dia tidak mampu
menempuh, apatah lagi ujian lain yang mewajibkan imannya untuk terus teguh.
Dia
nekad. Segala rasa cinta yang hadir sebelum waktunya perlu segera diusir.
Bimbang pula hatinya akan terus terusik. Kini dia memegang pada satu prinsip!
“Cinta
itu fitrah. Ilmu itu amanah. Iman itu perlu diasah. Maksiat itu perlu dicegah!”
Ashadu
Anla Ilahailallah Wa Ash Hadu Anna Muhammad Rasulullah. Hanya padaMu Tuhan, aku
berserah…
Sabtu, 31 Agustus 2013
Kasih Ilahi
Usai kerja untuk hari itu. Siti Khadijah menarik
nafas lega. Dia masih baru di syarikat itu. Tatkala diterima berkerja di
situ, dia segera mengucapkan syukur. Terasa masih baru meninggalkan
syarikat itu setelah beberapa bulan selesai menjalani latihan industri
di situ, kini dia melangkah kembali sebagai seorang pekerja pula. Ketika
masih ramai rakan yang belum mempunyai pekerjaan, Siti Khadijah sudah
mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bidang yang dipelajarinya. Dia
sangat bersyukur di atas nikmat rezeki itu.
Setelah hampir sebulan di situ, Siti Khadijah disapa Zayid, salah seorang pekerja di pejabatnya. Siti Khadijah tidak pernah menyapa Zayid ketika menjalani latihan industri dahulu. Menurut rakan sekerjanya, Zayid belajar di dalam bidang yang sama seperti Siti Khadijah. Siti Khadijah hanya mendiamkan diri. Tidak pula dia berminat untuk bertanyakan lebih tentang hal itu.
Jam sudah menunjukkan 5.35 petang. Dia bergegas mengunci pintu pejabatnya dan menuju ke surau. Ahh..masih belum Asar. Langkah kaki dihayun sepanjang- panjangnya. Tidak dipedulikan keadaan manusia di sekelilingnya. Dia menekan butang lift. Di dalam fikirannya hanya membayangkan tingkat 5, destinasi yang ingin ditujuinya .
Setibanya di sana, dia segera berwuduk dan menunaikan solat. Siti Khadijah sentiasa mencuba sebaik mungkin untuk solat di awal waktu namun adakalanya terlewat juga. Mujurlah, majikannya seorang Muslim yang prihatin tentang solat. Senang rasanya hati Siti Khadijah untuk bekerja di situ.
Ketika ingin pulang ke rumah, Siti Khadijah berpapasan dengan sahabat lamanya semasa di universiti. Amna namanya. Sejuk sungguh mata Siti Khadijah melihatkan penampilan Amna yang menutup aurat. Cantik sekali. Adakala tercetus perasaan iri melihat betapa tawaduknya Amna menutup aurat. Tidak seperti dirinya yang masih terkial- kial mengenakan pakaian yang labuh dan longgar .
Hanya sebentar perbualan mereka pada petang itu. Amna mengejar masa kerana dia ingin menghadiri program Usrah . Siti Khadijah termangu di situ sendirian.
Duhai diri.. betapa luasnya jurang antara dirimu dan Amna.
Dulu, Siti Khadijah biasa- biasa sahaja orangnya. Sekelumit pun dia tidak peduli tentang menutup aurat. Walaupun orangnya biasa- biasa sahaja namun dia sentiasa bertudung. Pernah ketika usianya belasan tahun dahulu dia ditegur emak apabila sepupu lelakinya bertandang ke rumah namun dia tidak menutup kepalanya dengan tudung. Rentetan itu, dia memandang berat keperluan untuk menutup kepala namun bahagian aurat yang lain masih juga terbuka. Siti Khadijah masih belum mengerti makna menutup aurat ketika itu.
Bertahun lamanya Siti Khadijah begitu. Seiring hari berlalu, dia melihat terlalu ramai kenalan di sekelilingnya mulai berubah mendekati Allah. Dia terdetik ingin tahu. Hati Siti Khadijah sendiri terasa terlalu jauh daripada ketenangan sebenar. Meskipun agamanya Islam namun Siti Khadijah bukan seorang muslim yang patuh sepenuhnya kepada perintah Allah SWT. Masih terlalu banyak kekurangan pada dirinya yang mesti diperbaiki. Baginya, memenuhi amalan wajib seperti berpuasa, dan solat sudah mencukupi. Itu sudah membuatkan dirinya layak bergelar seorang Islam.
Bahkan tidak.. Siti Khadijah masih terlalu dangkal di dalam beragama. Dirinya masih terlalu jauh daripada mengecapi manisnya iman.
Siti Khadijah sentiasa berimpian untuk menjadi seperti Amna. Baginya, Amna sempurna dalam beragama. Pernah disuarakan perasaan irinya melihatkan tawaduknya Amna menjaga batas-batas syariat namun Amna hanya tertawa kecil mendengarkan itu.
“Manusia hanya dibezakan dengan taqwa kepada Allah SWT. Amna pun tak sempurna, apa yang Khadijah nampak hanya dari satu sisi diri Amna je. Amna pun masih berusaha untuk membaiki diri. Sejujurnya Amna kagum dengan Khadijah. Khadijah sangat istiqamah dan tabah. Amna tahu, saat Khadijah buat keputusan nak berhijrah dulu, keputusan tu tak mudah. Namun, Amna bersyukur tengok Khadijah sekarang. Sepatutnya Amna yang iri dengan Khadijah tau, bukan Khadijah iri dengan Amna .”

Hatinya dihambat rasa sebak dek kata-kata Amna. Terasa malu menaruh rasa iri kepada Amna. Siti Khadijah tunduk meneleku lantai. Dia cuba untuk menahan air matanya daripada gugur. Sungguh kata-kata Amna ada kebenarannya. Tidak mudah keadaannya apabila dia membuat keputusan untuk berhijrah dahulu. Mujahadahnya pahit namun segalanya berbaloi kini. Siti Khadijah sangat merasai nikmat kemanisan setelah berhijrah.
Siti Khadijah masih teringatkan ejekan rakannya tika dia mula menjinakkan diri dengan sarung kaki, tika dia mula melabuhkan tudungnya. Mereka berkata Siti Khadijah mencuba untuk menjadi ustazah. Tika itu Siti Khadijah masih terkial-kial mencari pakaian yang sesuai untuk menutupi auratnya dan kebarangkalian cara berpakaiannya tidak kena pada pandangan mereka. Sesekali Siti Khadijah jauh hati juga dengan kata-kata mereka namun dia tetapkan hati.
Bukan kerana mereka Siti Khadijah menutup aurat!
Siti Khadijah mengesat air mata yang mulai bertakung di tubir matanya.
“ Ukhuwah fillah ya ukhti,” tutur Amna sambil memeluk Siti Khadijah. Air mata Siti Khadijah kian mengalir deras. Kristal jernih itu tidak mampu ditahan lagi. Tersedu-sedu Siti Khadijah menangis di dalam pelukan Amna.

Siti Khadijah sentiasa tulus berdoa, semoga Allah SWT sentiasa melorongkannya ke jalan yang lurus. Seiring doa, Allah mudahkan jalannya. Digantikan pula rakan- rakan lama dengan sahabat- sahabat baru yang sentiasa mendorongnya untuk lebih taat kepada Allah SWT. Mudah rasanya hidup bersyariat.
Dia seperti berada di puncak kebebasan walaupun mata manusia yang memandang muslimah sepertinya ibarat terpenjara dek arus fesyen dunia. Terlalu kolot! Mungkin pada pandangan mereka menutupi aurat dengan berpakaian labuh dan longgar sudah sepatutnya ditinggalkan jauh namun hanya hati yang merasai manisnya iman tidak berpandangan sedemikian. Biarlah bertutup sempurna, hakikatnya hati terasa damai di dalam dakapan redha Allah SWT.
Mei 2013…
Saat Siti Khadijah mahu melangkah pulang dari tempat kerjanya, kedengaran namanya disahut daripada belakang.
Siti Khadijah menoleh ke arah suara itu.
“Oh kau Zayid. Ada apa panggil aku?”
Kelihatan Zayid tercungap- cungap menahan nafas. Penat benar lakunya Si Zayid menyaingi langkah Siti Khadijah.
“ Tak ada benda serius pun. Aku nak kau baca ni. Ambil la baca dulu,” ujar Zayid sambil menyuakan risalah itu kepada Siti Khadijah.
“ Risalah apa ni Zayid?” Kehairanan Siti Khadijah. Risalah kini bertukar tangan.
“ Kau baca la ye. Aku balik office dulu,” tergesa- gesa Zayid melangkah pergi tanpa sempat menerangkan apakah isi kandungan risalah itu kepadanya.
Termangu-mangu Siti Khadijah. Hasrat untuk pulang kini terbantut.
Risalah yang sudah bertukar tangan dipandangnya lesu.
Siti Khadijah menyelak helaian demi helaian. Terlalu banyak risalah mengenai parti-parti politik yang bertanding di pilihan raya hadir menjengah saat ini. Masing-masing cuba mengangkat bahawa merekalah yang paling gah menjuangkan nasib bangsa dan agama dengan slogan yang pelbagai namun hakikatnya sesetengah daripada mereka hanya indah khabar dari rupa sahaja. Semakin dibaca semakin Siti Khadijah merasakan ada yang tidak kena pada risalah itu. Risalah itu ditutup cermat. Segera, matanya mencari Zayid. Dia ingin memulangkan risalah itu kepada Zayid kembali.
“Nah risalah ni Zayid. Tak nak la aku baca dah,” ujar Siti Khadijah sambil tangannya menghulurkan kembali risalah itu kepada Zayid.
Risalah itu kembali bertukar tangan.
“ Mana kau dapat risalah ni?” soal Siti Khadijah ingin tahu.
“ Aku dapat risalah ni masa sembahyang Jumaat tadi. Saja nak bagi kau baca. Nak tahu apa reaksi kau,” Zayid menerangkan.
“ Selamanya aku pilih Islam, Zayid,” tutur Siti Khadijah cuba menamatkan bicara.
“ Alhamdulillah,” Zayid melafazkan syukur tika mendengarkan butir bicara Siti Khadijah itu.
Zayid memandang kosong melihat Siti Khadijah melangkah pergi. Mukanya diraup perlahan. Saat itu, detik hatinya hanya Allah SWT yang Maha Mengetahui.
“ Siti Khadijah..bukan aku insan terbaik untuk menjadi pengemudi bahteramu namun ya Allah, jika benar dia untukku, semoga dimudahkan segalanya”
Setelah hampir sebulan di situ, Siti Khadijah disapa Zayid, salah seorang pekerja di pejabatnya. Siti Khadijah tidak pernah menyapa Zayid ketika menjalani latihan industri dahulu. Menurut rakan sekerjanya, Zayid belajar di dalam bidang yang sama seperti Siti Khadijah. Siti Khadijah hanya mendiamkan diri. Tidak pula dia berminat untuk bertanyakan lebih tentang hal itu.
Jam sudah menunjukkan 5.35 petang. Dia bergegas mengunci pintu pejabatnya dan menuju ke surau. Ahh..masih belum Asar. Langkah kaki dihayun sepanjang- panjangnya. Tidak dipedulikan keadaan manusia di sekelilingnya. Dia menekan butang lift. Di dalam fikirannya hanya membayangkan tingkat 5, destinasi yang ingin ditujuinya .
Setibanya di sana, dia segera berwuduk dan menunaikan solat. Siti Khadijah sentiasa mencuba sebaik mungkin untuk solat di awal waktu namun adakalanya terlewat juga. Mujurlah, majikannya seorang Muslim yang prihatin tentang solat. Senang rasanya hati Siti Khadijah untuk bekerja di situ.
Ketika ingin pulang ke rumah, Siti Khadijah berpapasan dengan sahabat lamanya semasa di universiti. Amna namanya. Sejuk sungguh mata Siti Khadijah melihatkan penampilan Amna yang menutup aurat. Cantik sekali. Adakala tercetus perasaan iri melihat betapa tawaduknya Amna menutup aurat. Tidak seperti dirinya yang masih terkial- kial mengenakan pakaian yang labuh dan longgar .
Hanya sebentar perbualan mereka pada petang itu. Amna mengejar masa kerana dia ingin menghadiri program Usrah . Siti Khadijah termangu di situ sendirian.
Duhai diri.. betapa luasnya jurang antara dirimu dan Amna.
Dulu, Siti Khadijah biasa- biasa sahaja orangnya. Sekelumit pun dia tidak peduli tentang menutup aurat. Walaupun orangnya biasa- biasa sahaja namun dia sentiasa bertudung. Pernah ketika usianya belasan tahun dahulu dia ditegur emak apabila sepupu lelakinya bertandang ke rumah namun dia tidak menutup kepalanya dengan tudung. Rentetan itu, dia memandang berat keperluan untuk menutup kepala namun bahagian aurat yang lain masih juga terbuka. Siti Khadijah masih belum mengerti makna menutup aurat ketika itu.
Bertahun lamanya Siti Khadijah begitu. Seiring hari berlalu, dia melihat terlalu ramai kenalan di sekelilingnya mulai berubah mendekati Allah. Dia terdetik ingin tahu. Hati Siti Khadijah sendiri terasa terlalu jauh daripada ketenangan sebenar. Meskipun agamanya Islam namun Siti Khadijah bukan seorang muslim yang patuh sepenuhnya kepada perintah Allah SWT. Masih terlalu banyak kekurangan pada dirinya yang mesti diperbaiki. Baginya, memenuhi amalan wajib seperti berpuasa, dan solat sudah mencukupi. Itu sudah membuatkan dirinya layak bergelar seorang Islam.
Bahkan tidak.. Siti Khadijah masih terlalu dangkal di dalam beragama. Dirinya masih terlalu jauh daripada mengecapi manisnya iman.
Siti Khadijah sentiasa berimpian untuk menjadi seperti Amna. Baginya, Amna sempurna dalam beragama. Pernah disuarakan perasaan irinya melihatkan tawaduknya Amna menjaga batas-batas syariat namun Amna hanya tertawa kecil mendengarkan itu.
“Manusia hanya dibezakan dengan taqwa kepada Allah SWT. Amna pun tak sempurna, apa yang Khadijah nampak hanya dari satu sisi diri Amna je. Amna pun masih berusaha untuk membaiki diri. Sejujurnya Amna kagum dengan Khadijah. Khadijah sangat istiqamah dan tabah. Amna tahu, saat Khadijah buat keputusan nak berhijrah dulu, keputusan tu tak mudah. Namun, Amna bersyukur tengok Khadijah sekarang. Sepatutnya Amna yang iri dengan Khadijah tau, bukan Khadijah iri dengan Amna .”
Hatinya dihambat rasa sebak dek kata-kata Amna. Terasa malu menaruh rasa iri kepada Amna. Siti Khadijah tunduk meneleku lantai. Dia cuba untuk menahan air matanya daripada gugur. Sungguh kata-kata Amna ada kebenarannya. Tidak mudah keadaannya apabila dia membuat keputusan untuk berhijrah dahulu. Mujahadahnya pahit namun segalanya berbaloi kini. Siti Khadijah sangat merasai nikmat kemanisan setelah berhijrah.
Siti Khadijah masih teringatkan ejekan rakannya tika dia mula menjinakkan diri dengan sarung kaki, tika dia mula melabuhkan tudungnya. Mereka berkata Siti Khadijah mencuba untuk menjadi ustazah. Tika itu Siti Khadijah masih terkial-kial mencari pakaian yang sesuai untuk menutupi auratnya dan kebarangkalian cara berpakaiannya tidak kena pada pandangan mereka. Sesekali Siti Khadijah jauh hati juga dengan kata-kata mereka namun dia tetapkan hati.
Bukan kerana mereka Siti Khadijah menutup aurat!
Siti Khadijah mengesat air mata yang mulai bertakung di tubir matanya.
“ Ukhuwah fillah ya ukhti,” tutur Amna sambil memeluk Siti Khadijah. Air mata Siti Khadijah kian mengalir deras. Kristal jernih itu tidak mampu ditahan lagi. Tersedu-sedu Siti Khadijah menangis di dalam pelukan Amna.
Siti Khadijah sentiasa tulus berdoa, semoga Allah SWT sentiasa melorongkannya ke jalan yang lurus. Seiring doa, Allah mudahkan jalannya. Digantikan pula rakan- rakan lama dengan sahabat- sahabat baru yang sentiasa mendorongnya untuk lebih taat kepada Allah SWT. Mudah rasanya hidup bersyariat.
Dia seperti berada di puncak kebebasan walaupun mata manusia yang memandang muslimah sepertinya ibarat terpenjara dek arus fesyen dunia. Terlalu kolot! Mungkin pada pandangan mereka menutupi aurat dengan berpakaian labuh dan longgar sudah sepatutnya ditinggalkan jauh namun hanya hati yang merasai manisnya iman tidak berpandangan sedemikian. Biarlah bertutup sempurna, hakikatnya hati terasa damai di dalam dakapan redha Allah SWT.
Mei 2013…
Saat Siti Khadijah mahu melangkah pulang dari tempat kerjanya, kedengaran namanya disahut daripada belakang.
Siti Khadijah menoleh ke arah suara itu.
“Oh kau Zayid. Ada apa panggil aku?”
Kelihatan Zayid tercungap- cungap menahan nafas. Penat benar lakunya Si Zayid menyaingi langkah Siti Khadijah.
“ Tak ada benda serius pun. Aku nak kau baca ni. Ambil la baca dulu,” ujar Zayid sambil menyuakan risalah itu kepada Siti Khadijah.
“ Risalah apa ni Zayid?” Kehairanan Siti Khadijah. Risalah kini bertukar tangan.
“ Kau baca la ye. Aku balik office dulu,” tergesa- gesa Zayid melangkah pergi tanpa sempat menerangkan apakah isi kandungan risalah itu kepadanya.
Termangu-mangu Siti Khadijah. Hasrat untuk pulang kini terbantut.
Risalah yang sudah bertukar tangan dipandangnya lesu.
Siti Khadijah menyelak helaian demi helaian. Terlalu banyak risalah mengenai parti-parti politik yang bertanding di pilihan raya hadir menjengah saat ini. Masing-masing cuba mengangkat bahawa merekalah yang paling gah menjuangkan nasib bangsa dan agama dengan slogan yang pelbagai namun hakikatnya sesetengah daripada mereka hanya indah khabar dari rupa sahaja. Semakin dibaca semakin Siti Khadijah merasakan ada yang tidak kena pada risalah itu. Risalah itu ditutup cermat. Segera, matanya mencari Zayid. Dia ingin memulangkan risalah itu kepada Zayid kembali.
“Nah risalah ni Zayid. Tak nak la aku baca dah,” ujar Siti Khadijah sambil tangannya menghulurkan kembali risalah itu kepada Zayid.
Risalah itu kembali bertukar tangan.
“ Mana kau dapat risalah ni?” soal Siti Khadijah ingin tahu.
“ Aku dapat risalah ni masa sembahyang Jumaat tadi. Saja nak bagi kau baca. Nak tahu apa reaksi kau,” Zayid menerangkan.
“ Selamanya aku pilih Islam, Zayid,” tutur Siti Khadijah cuba menamatkan bicara.
“ Alhamdulillah,” Zayid melafazkan syukur tika mendengarkan butir bicara Siti Khadijah itu.
Zayid memandang kosong melihat Siti Khadijah melangkah pergi. Mukanya diraup perlahan. Saat itu, detik hatinya hanya Allah SWT yang Maha Mengetahui.
“ Siti Khadijah..bukan aku insan terbaik untuk menjadi pengemudi bahteramu namun ya Allah, jika benar dia untukku, semoga dimudahkan segalanya”
[Penulis : Dhiahanum] [Editor : Mohd Kasim]
Berfikiran Positif Dan Optimis
Dunia seakan-akan gelap. Seolah-olah tiada lagi cahaya yang menyuluh. Apakah ini pengakhiran yang kita maukan?
Kejayaan adalah memaksimumkan potensi kita untuk merealisasikan matlamat utama kita dalam perjalanan hidup. Semua insan pernah gagal. Kerana gagal adalah guru.
Apabila kita berusaha untuk mencapai sesuatu, kita berjaya kerana kita tahu cara untuk mencapai matlamat kita.
Bijak pandai pernah berkata, “Sama ada kita menjadi abu atau menjadi seekor merak, ia terpulang pada diri kita sendiri.”
Sebenarnya, hidup kita bukan sekadar bergantung pada setiap apa yang berlaku pada kita dan sekeliling, tetapi ia lebih kepada bagaimana kita memberi tindak balas terhadap apa yang berlaku.
Sayangi diri.
Buatlah sesuatu demi kebaikannya dan yang memberi manfaat buatnya.
Ia bukan bermakna pergi spa 30 hari sebulan, tetapi lebih dari itu.
Kisah Guru Dan Murid
Seorang guru pernah bertanya pada anak muridnya, “Adakah kamu semua menyayangi diri sendiri?”
Dan para murid menjawab, “Ya! Kami sayang diri kami!”
Ujar guru itu, “Bagaimana cara kamu semua menyayangi diri sendiri?”
“Belajar sungguh-sungguh!”
“Jaga hati!”
“Pakai topi keledar!”
Maka kata si guru,
“Benar. Tetapi ia lebih dari itu. Terimalah diri kamu, tiada manusia yang sempurna. Hormatlah maruah kamu, ia tidak pernah meminta untuk diragut melainkan kamu yang membiarkannya. Berikan galakan kepada diri kamu, galakan orang lain tidak cukup buatmu. Rancangkan kejayaan buat diri kamu, jangan biar diri kamu gagal kerana kegagalan yang diterima.”
Boleh menangis, menyesal, menjerit sekuat mungkin kerana meratapi kegagalan yang diterima. Tetapi pada esok hari, kamu harus bangun tidur dengan segar dan hilangkan segala kesedihan.
Kenapa?
Kerana
berabad-abad sekalipun tangisan dan kekecewaan ia tidak akan merubah
apa-apa. Ambil separuh untuk dijadikan iktibar dan ambil separuh untuk
dijadikan pendorong.
Seorang lelaki mengejar penerbangannya, saat tiba di lapangan terbang, penerbangannya terpaksa dilewatkan kerana kerosakan pada bahagian tertentu. Tetapi dia tidak marah. Katanya, “Bagus!”
Maka orang di sekelilingnya hairan. Bukankah sepatutnya lelaki itu marah.
“Mereka mengambil berat akan keselamatan kita. Bukankah ia bagus?”
“Tetapi.. sukarlah untuk kita mendapatkan penerbangan berikutnya. Kerana kita terpaksa menunggu dengan begitu lama. Sedangkan sekarang kita sedang mengejar masa!”
“Bagus!”
Dan orang di sekelilingnya bertambah hairan.
“Kenapa bagus?”.
“Kerana saya dan semua orang dapat bersantai-santai terlebih dahulu. Cuaca di luar sana sangat tidak menyenangkan. Sedangkan kita di sini berada dalam keadaan nyaman dan selesa. Terdapat beberapa buah kusyen empuk di hujung kaunter. Terdapat makanan dan kopi panas di kafeteria. Jadi saya akan memanfaatkan peluang ini, kerana saya sering tidak cukup masa selama ini. Sekarang saya dapat membaca majalah kegemaran saya terlebih dahulu.”
Dan orang sekelilingnya merasa kagum dengan lelaki itu. Seraya berkata, “Hebat!”
Itulah
dia. Tabiatnya yang positif akan mempengaruhi kelakuan, kata-kata dan
pastinya keputusan. Ia memberitahu dunia bahawa sikap positif penting
dalam kehidupan. Apa sekali pun tujuan kita, fikir positif. Sentiasa
positif dan optimis!
Saya tertarik dengan kata-kata Tan Sri Syed Mokhtar Al-Bukhari yang terdapat dalam sebuah buku motivasi “Menuju Kejayaan.”
“Saya
ini kata orang Kedah, lebai kodok bukan lebai pondok. Tapi saya tahu
hal-hal asas. Kalau mahu, saya terus minta dari Tuhan. Tuhan beri
manusia akal dan fikiran. Kalau hendak pakai baju biarlah padan dengan
badan. Jangan jadikan agama hanya satu tempat untuk kita bergantung
apabila kita susah.”
- Artikel iluvislam.com
Langganan:
Postingan (Atom)


