Tampilkan postingan dengan label A Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label A Story. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 November 2013

NARRATIVE TEXT

THE BEE AND THE DOVE

One day, a bee was flying across a lake. Suddenly there was high wind. A bee fell down into the lake. His wings got wet. Now he could not fly up. He was sure to die.
Meanwhile, a dove was sitting on near a tree. She saw the bee struggling. She plucked a leaf from the tree. She held the leaf in her beak and flew out. She dropped the leaf near the bee. The bee slowly got on to the leaf. He shook his wings.  Then he thanked the dove and flew away.
A few days later, a boy was aiming his slingshot at the dove. The dove was asleep. Her eyes were closed. She didn’t know about the danger. The bee saw the boy. He flew out to the boy. He stung the hand that held the slingshot. The boy dropped his slingshot and cried. The boy’s cry woke up the dove. She thanked the bee for saving her live and flew away.
One day, the tree on which the bee and friends lived fell down. They were so upset. They lost their mansions. One of them cried. The dove heard the bee’s friend cry. She came to the bee’s house and asked the bee what happened to his house. The bee told the dove.
After that, the dove offered the bee and friends to live together with her in a big tree. They agreed it. They  moved to the big tree. The dove lived in a hole of big tree and the bee and friends made a nest on one of the big branches of the same tree. Both the bee and the dove were not only neighbour but also friend. They often flew to some places together.
One morning, the boy came back to aim the dove again. He didn’t come alone. He came with his friends. When the boy aimed his slingshot, the dove was eating. She enjoyed her food. So that, she didn’t know about the danger. At that time, the bee and friends flew to the flower garden to find some food for breakfast. The boy had succeeded to aim the dove. The dove fell down from the tree.
When the bee got home, he found the bee unconscious in the land. He saw the boy aimed the dove. He was angry. He called his friends to sting the boy and friends. The bee and friends flew out to them and sting their face and hand. The boy and friends dropped their slingshot and cried in great pain. They ran away from the place.

The bee helped the dove and tried to treat her injury. He took care the dove patiently. Several days later, the dove got better. The dove thanked the bee and friends for saving her life again. The dove and the bee had been best friend ever since. They lived happily ever after.

CERPEN PERSAHABATAN

MATAHARI JINGGA
Karya Amira

Hari itu hujan, hujan yang sangat lebat. Aku bersiap pergi ke sekolah. Matahari tertutup awan hitam sehingga pagi itu terlihat seperti malam. Aku akan berangkat ke sekolah bersama Lisa. Ia sudah membuat rencana tadi malam.
Setelah lebih dari 20 menit menunggunya di halte, dia tidak juga terlihat. Aku memutuskan untuk pergi atau gerbang sekolah tidak akan terbuka lagi untukku. Dalam hati aku bersungut “Apa yang terjadi padanya? Jika aku bertemu dengannya di sekolah nanti, aku bersumpah akan memukul pundaknya dengan buku.”
Ketika aku akan naik ke dalam angkutan umum, aku melihat seorang gadis yang kira-kira usianya 1 tahun lebih tua dariku duduk di halte. Ia mengepal erat kedua tangannya. Ia kedinginan. Aku tak dapat menangkap seperti apa rupanya karena di sana benar-benar gelap, apalagi aku sudah masuk ke dalam angkutan tersebut. Ahh .. sudahlah. Ia bukan siapa-siapa.
Bel telah berbunyi 10 menit yang lalu, tapi gerbang belum ditutup. Mungkin sekolah memberikan dispernsasi di hari hujan seperti ini. Aku sampai di kelas dan kulihat Lisa tengah duduk sambil menikmati novelnya. Ia tak menyadari kedatanganku. Buru-buru aku keluarkan buku geografi yang tebalnya seperti kasur kamarku agar aku bisa memukulnya.
“Aduuuhhh… apaan sih?” Lisa merintih. Ia tidak tau kalau aku yang memukul pundaknya.
“Apa maksudnya membiarkan aku sendiri di halte. Menunggu seperti orang idiot?” aku berkecak pinggang.
“Maafin aku, Nad. Tadi aku diantar ayah karena hujan. Aku juga lupa kalo aku punya janji pergi bersamamu. Maafin aku ya.” Ia memasang wajah sedih dan aku pun memaafkannya.
Pelajaran perama berakhir. Dan hujan pun turun semakin lebat. Aku tak tahan dengan situasi seperti ini. Aku mengantuk dan aku rasa semua yang ada dikelas ini pun begitu. Bel istirahat berbunyi. Aku dan Lisa enggan beranjak dari meja. Lisa bahkan tidak mau mengangkat wajahnya dari jaket yang ia gunakan sebagai bantal.
“Mana jaket mu Nadine? Aku pinjam.” Perkataan Lisa tadi membuatku tersadar bahwa sedari tadi jaket yang aku bawa sekarang hilang. Ya ampun kenapa aku begitu bodoh. Melupakan benda yang sangat penting di hari hujan seperti ini.
“Aku lupa di mana meletakkannya. Tadi sepertinya waktu aku menunggumu di halte, jaketnya masih aku pegang.”
“Mungkin tertinggal di angkutan umum. Atau tertinggal di halte.” Benar juga apa katanya.
“Ya sudahlah. Mungkin benda itu sudah menjadi milik orang lain.
Bel pulang berbunyi. Aku dan Lisa pulang bersamaan.
Keesokan harinya, hujan masih turun karena ini memang musim hujan. Kali ini aku memang pergi sendiri ke sekolah karena Lisa masih juga diantar ayahnya. Aku duduk di halte menunggu tumpanganku. Ketika aku melihat ke arah jalan, muncul seorang gadis yang basah kuyup. Tangannya memegang sesuatu yang aku kenal. Itu jaketku. Aku melihat ke arahnya. Gadis itu, gadis yang kemarin aku lihat di halte ini. Kali ini wajahnya jelas terlihat di hadapanku. Ia mengulurkan jaket yang di pegangnya.
“Ini punyamu?” suaranya serak. Hampir tidak terdengar. Tidak ada ekspresi apapun yang keluar dari wajahnya. Aku masih belum bisa mengatakan apapun. Tangan, badan serta kakiku dingin.
“Jawab aku. Ini punyamu atau bukan?” kali ini ia membentak. Suaranya melengking ke telinga. Aku takut. Sangat takut. Akhirnya aku menganggukkan kepala. Ia melemparkan jaketku ke tanah. Lalu ia duduk di sampingku. Aku bertanya-tanya mau apa anak ini. Sialnya aku tak menemukan satu orangpun di sini selain dia. Dan yang lebih sialnya lagi, ia memandangiku terus. Entah apa yang ia mau dariku. Aku memberanikan diri untuk berbicara.
“Terima kasih.” ucapku dengan senyum. Ia tidak membalas. 1 menit kemudian ia berbicara.
“Di mana kau bersekolah?”
“Aku bersekolah di SMA R.A Kartini.” Ia diam lagi. Aku melihat tangannya menggenggam satu sama lain, lalu sesekali menggosokkan telapak tangannya.
“Kau kedinginan. Aku bawa jaket 1 lagi. Kau mau?” Ia diam lagi, lagi dan lagi. Ia menatapku lagi sambil mengangguk. Aku memberikan jaket yang ada di tasku padanya. Akhirnya angkutanku telah datang, tapi rasanya tak ingin ku tinggalkan tempat itu. Melihatnya kedinginan di halte, sungguh aku malas berangkat sekolah.
“Hey… siapa namamu?” seruku.
“Aku Myra” lalu ia pergi dalam hujan. Ia masih memakai jaketku.
Kali ini aku datang lebih awal dari Lisa. Teringat saat pertama aku jumpa anak di halte tadi. Ohh... namanya Myra. Nama yang indah didengar. Kelihatannya ia anak baik. Tapi kenapa ia tidak bersekolah? Atau mungkin ia telah selesai? Entahlah. Semoga besok aku berjumpa dengannya lagi.
Bel berbunyi dan tepat pada saat itu Lisa datang. Ia terlihat sangat manis dengan jaket coklatnya. Anak itu memang manis menggunakan pakaian apapun. Bahkan baju tidur sekalipun.
“Hey, Nad. Karena hujan, mobil ayah macet. Semua orang ingin cepat. Tergesa-gesa seperti segala sesuatu harus diselesaikan hari ini juga. Kasihan ayah yang harus terlambat ke lapangan karena aku.” Wajahnya tak bisa ku gambarkan. Antara sedih, capek, marah dan lucu.
“Duduklah Melisa. Kau terlihat cantik hari ini. Jangan buat penampilanmu jadi bodoh. Guru kita sepertinya tidak hadir. Mau ke kantin?” aku berusaha menenangkannya. Ia tersenyum dan mengangguk.
Aku berharap matahari segera pulang dan berganti bulan. Lalu bulan pun pulang dan berganti matahari lagi. Agar aku bisa berjumpa Myra. Kalau ia ada disana.
~~~
Pelajaran matematika adalah salah satu pelajaran yang paling ampuh untuk membuatku segera tidur, karena tidak ada pelajaran lain yang bisa membuat mataku sayu atau tertutup sama sekali kecuali dia. Jam bergerak ke angka 11 dan aku sudah mulai mengantuk. Ku tutup buku matematika-ku lalu mengambil I-Phone. Aku memutar lagu Christina Perri-A Thousand Years yang ku senangi. Aku pun tertidur.
Alarm itu membangunkanku. Ku singkap tirai jendela, hari masih hujan tetapi hanya sedikit. Tidak separah semalam. Dengan semangat aku bangun, mengambil handuk, menuju kamar mandi, berpakaian, berdandan dan semua itu ku lakukan dalam waktu 20 menit. Sengaja aku mau pergi cepat hari ini agar bisa ngobrol dengan Myra lebih lama. Entah apa yang membuatku tertarik padanya. Mungkin karena sifatnya yang misterius. Jadi mulai hari ini aku putuskan untuk bersifat misterius agar orang tertarik padaku.
“Ma, Nadine berangkat. Nanti pulangnya agak lama ya ma, karena ada ekskul badminton. Assalamualaikum” seruku tanpa mendengar jawaban dari mama. Aku berlari untuk sampai ke halte yang biasa aku singgahi. Sesampainya di sana aku tak menyangka ia duduk di situ dengan jaket yang kuberikan kemarin.
Ia menjulurkan tangannya dan memberikanku jaket itu. Aku tersenyum lalu berseru “Tak apa. Simpan saja jaket itu. Aku punya 2 kok. Anggap saja ini ucapan terima kasihku.”
“Baiklah kalau begitu. Aku juga tidak tau apa fungsi dari benda ini.” Jawabnya.
Aku tercengang sekali. “Apa? Ini namanya jaket. Kata itu berasal dari bahasa inggris yang artinya ‘sebuah benda yang terbuat dari kain atau kulit bulu yang digunakan untuk melindungi diri dari hujan dan panas’. Kau mengerti?”
“Apa buruknya hujan. Aku tiap hari bermain hujan. Pergi sesukaku tanpa benda yang kau beri tadi. Dan sampai sekarang aku tidak kenapa-kenapa. Bahkan aku pun tak pernah mendengar berita di koran atau radio kalau ada anak seusiaku mati dikarenakan hujan” jawabnya ketus. Tapi pemikiran nya masuk akal juga buatku.
“Ya sudahlah terserah padamu saja. Tapi aku yakin suatu hari nanti kau membutuhkan benda itu.”
“Siapa namamu?” tanyanya.
“Aku? Aku Nadine. Kau?” Betapa bodohnya pertanyaanku tadi.
“Sepertinya aku telah memberitahukan namaku padamu kemarin. Aku Myra. Panggil saja Mey.” Nama asli dan nama panggilannya kurang pas. Myra dan Mey.
Aku terdiam. “Namaku April.” Dan lagi aku mengulang pernyataan yang tadi telah ku buat. Kenapa aku? Kenapa tiba-tiba aku jadi bodoh? Ia melihat kearahku dan mengangkat kedua alisnya. Pertanda ia bingung.
“Kenapa tiba-tiba kau mengganti namamu? Bukankah tadi Nadine?”
“Oohh... iya ya. Nama asliku adalah Nadine Aprilia Kirana. Tadi kau telah menyebutkan namamu Mey. Jadi biar kau selalu ingat namaku, pangil saja aku April. Kan nama kita berdekatan. Mey dan April. Begitu.” Jelasku. Kelihatannya ia sudah mengerti.
“Seperti nama bulan.”
“Di mana rumahmu?” sekarang giliranku bertanya.
“Kau mau tau di mana rumahku? Ikut aku sepulang kau sekolah. Aku akan ada di sini sekitar pukul 5. Kau mau?”
“Tentu. Sekarang aku pergi dulu. Angkutanku telah datang. Sampai bertemu pukul 5.” Seruku bersemangat. Aku tersenyum senang. Tidak kusangka ia bisa juga ramah padaku.
Bel pulang sekolah berbunyi pukul 2.30 dan aku masih ada ekskul badminton lagi. Ku selesaikan semua jadwalku dengan cepat. Berharap pukul 5 segera datang.
Pukul 5 tepat ekskul pun berakhir. Tetapi tiba-tiba kakak pembina memberikan instruksi pada kami untuk membersihkan lapangan. Ya ampun aku tak mungkin bisa pulang. Aku meminta izin pada kakak pembina untuk memulangkanku lebih awal dengan alasan membantu mama membuat pesta Amir Agha, adikku. Tapi permohonanku ditolak.
Setelah semuanya bersih aku pun segera pulang. Kulirik jam tanganku. Pukul 05.45. Aku terlambat 45 menit dari janji. Akhirnya aku sampai ke halte. Tidak ada seorangpun di sana. Tiba-tiba aku melihat Mey berlari menghampiriku.
“Sudah 30 menit aku menunggumu di sini tadi.”
“Maaf Mey. Tadi aku ada ekskul diseko……”
“Sudah... cepat kita pergi. Jangan banyak bicara. Nanti kita ketinggalan sesuatu.” Jawabnya sambil menarik erat tanganku. Sangat sakit rasanya digenggam oleh dia.
Kami berlari hampir 15 menit. Sebuah rekor baru untukku. Mey mengajakku ke sebuah tempat di dekat gunung yang aku tak tau apa namanya. Lalu kami mendaki lagi beberapa meter hingga akhirnya kami sampai ke dekat laut. Tepat di bawah kami laut itu berada. Aku merasa ngeri melihatnya. Apa yang akan dilakukan Mey di sini? Aku mulai takut sekarang. Aku memandangi wajahnya heran. Ia masih belum juga melepaskan genggamannya dari tanganku. Sementara tanganku rasanya perih sekali.
“Tenang saja, Pril. Aku tak akan menjatuhkanmu ke laut itu. Ayo kita duduk. Percaya padaku, kau tak akan jatuh.” Katanya dan aku menuruti.
“Tunggulah sekitar 5 menit lagi. Dan kau akan melihatnya.” Sambungnya. Aku tak mengerti apa maksud perkataannya dari tadi. Di mana rumahnya? Aku bahkan tak melihat sebuah rumah pun di sini.
Setelah 5 menit menunggu akhirnya pemandangan indah pun nampak. Matahari yang akan pulang ke barat. Langit gelap dan burung-burung pun pulang. Tebak apa warna mataharinya. Warnanya jingga. Jadi ini yang sedang kami tunggu-tunggu dari tadi. Ternyata benar. Sungguh itu sangat indah. Aku memandang wajah Mey. Dan untuk pertama kali nya aku melihat ia tersenyum.
“Aku selalu ke sini bersama ayah dulu. Setiap hari hampir gelap, kami mendaki gunung ini. Dan pulang hingga malam hari.” Katanya senang.
Ia lalu menceritakan semua tentang kejadian keluarganya. Ayahnya meninggal setelah ia berumur 8 tahun. Aku bertanya karena apa ayahnya meninggal tetapi ia sendiri pun tidak tau. Sampai saat ini ia tidak pernah menemukan kuburan ayahnya. Lalu setelah ayahnya meninggal, ibu Mey tak sanggup hidup sendiri. Ia bahkan tak mau mengurusi Mey. Suatu malam ibunya pergi dengan sebuah mobil pick-up punya tetangganya, meninggalkan Mey yang masih kecil. Esokya ia bertanya pada tetangganya kemana ibunya pergi. Mereka bilang “Ibumu pergi kesuatu tempat, Mey. Jauh di negeri sana. Kalau ia telah tua nanti baru ia akan pulang.” Lalu mereka tertawa. Kemana ibunya? Ia pun tak tau hingga sekarang. Ia pun meninggalkan rumahnya dan tinggal entah di mana.
“Aku biasa hidup di mana pun aku mau. Aku akan bekerja pekerjaan apapun. Terkadang kita tak harus punya rumah untuk bisa bertahan hidup.” Katanya. Jadi inti dari ceritanya adalah ia anak yatim yang ditelantarkan oleh ibunya dan hidup entah di mana.
Sepertinya sudah cukup petualanganku hari ini. Aku pun ingin pulang dan kami pulang bersama-sama.
Hari demi hari kami lalui bersama. Aku pun merasa senang mengenal Mey. Ia baik dan jujur. Hanya saja ia tinggal dijalanan dan tidak pernah sekolah. Kalau mama tau ia pasti akan marah.
Suatu hari aku pernah bertanya pada Mey “Kenapa kau tidak sekolah Mey?”
“Siapa yang tidak ingin sekolah? Semua orang mau. Hanya saja kesempatan ku belum datang.”
“Kalau kau tak bersekolah apa cita-citamu?” Tanyaku lagi.
“Aku punya cita-cita untuk membangun sebuah sekolah.” aku terkejut mendengarnya. Bagaimana bisa seorang yang tidak pernah sekolah bisa membangun sebuah sekolah. Aku hampir tertawa oleh kebodohannya.
“Kenapa kau tertawa? Aku tau apa yang tengah kau pikirkan. Aku memang tidak pernah sekolah, tetapi lingkunganlah yang telah mengajarkan ku. Bukankah Gustave Eiffel, perancang menara Eiffel tidak suka belajar secara spesifik dan formal? Dan kau tau cerita tentang Thomas Alfa Edison? Ia pernah tinggal kelas 3 kali dan dikeluarkan dari sekolah karena ia sangat bodoh. Tapi siapa yang tau 12 tahun kemudian ia telah menerangi dunia dengan penemuan lampunya?” jawabnya ringan dan kali ini aku benar-benar terkejut mendenar jawabannya. Bagaimana bisa seorang anak yang ijazah SD sajapun ia tidak punya tetapi tau tentang Gustave Eiffel dan Thomas Alfa Edison. Jujur saja, aku sendiri pun tidak tau mengenai itu.
“Benar juga apa katamu Mey. Maaf aku telah menghinamu. Aku menyesal.” Kataku sambil menundukkan kepala sedalam-dalamnya.
“Tak apa. Aku tau kau akan berpikir seperti itu. Mungkin ini pertemuan kita yang terakhir. Setelah itu aku akan pergi.” Ucapnya.
“Apa? Kau mau pergi ke mana?”
“Aku akan pergi mencari ibuku.”
“Ibumu? Kau sendiri tak tau ia di mana. Jangan konyol Mey” sergahku.
“Aku tau. Tapi aku akan tetap mencarinya. Aku tidak punya keluarga lagi di sini.”
“Kau bisa anggap aku sebagai saudaramu Mey. Kau boleh tinggal di rumahku kapan pun kau suka. Tolonglah. Jangan pergi. Pikirmu enak hidup di negara orang. Sulit Mey... sangat sulit. Apalagi gadis seperti kau.” Aku hampir menangis mengatakan kalimat itu.
“Hah. Sudahlah Aprilia. Aku baik-baik saja di sana. Keputusanku sudah bulat. Aku akan mencari ibuku.”
Kami berdua terdiam. Lalu 2 menit keudian ia berbicara lagi
“Tenang, April. Kaulah teman yang baru ku dapatkan selama 12 tahun ini. Hanya kau yang mau bermain denganku. Hanya kau yang aku ajak ke tempat ini. Aku berjanji suatu hari nanti kita akan bertemu. Di tempat ini juga. Melihat matahari jingga dan burung-burung pulang. Lima tahun lagi. Ya, aku berjanji padamu. Lima tahu lagi aku akan berada di sini, menunggumu datang. Tepat pada hari ini. Jam ini dan menit ini. Percayalah.”
Sejak saat itu aku tak pernah melihatnya lagi. Di halte pada pagi hari. Dan di gunung itu pada sore hari. Ternyata benar, ia telah pergi entah ke mana. Aku tak tau hal apa yang harus menghentikan setiap langkahnya. Ia aneh dan misterius. Terkadang ia mengajarkan beberapa hal baru padaku. Setiap hari aku menunggunya. Berharap ia pulang. Tetapi tetap saja ia belum ku lihat.

Aku teringat perkataannya ‘Lima tahun lagi kita akan berjumpa di sini. Pada hari yang ini, pada jam ini dan menit ini. Percayalah.’ Benar Mey. Aku akan menunggumu. Aku ingin melihat seperti apa rupamu 5 tahun lagi. Apakah kau telah membangun sekolahmu. Apakah kau masih tetap misterius seperti saat ini. Aku bersabar. Baik aku akan menunggumu 5 tahun lagi di tempat ini. Benar Mey, 5 tahun lagi.

Jumat, 11 Oktober 2013

MONOLOG CINTA


Dia merenung dalam bait tinta yang ditangkap lensa miliknya. Sepasang mata yang bening itu bergerak-gerak kiri ke kanan. Dia cuba untuk memahami kata-kata itu.
“Cinta bukan tujuan, tapi hanyalah jalan. Cinta itu bukan matlamat, tapi hanyalah alat” – Ustaz A.Ubadillah Alias
Dahinya dikerutkan. Keningnya dirapatkan. Tanda dirinya sedang memikirkan sesuatu yang mengusik perasaan.
“Cinta bukan tujuan. Tapi jalan. Cinta bukan matlamat. Tapi alat..” Bait tinta itu bergema dalam sanubarinya.
“Apa ertinya?” Dia bermonolog.
Lama dia merenung. Sesekali, dia menghantar pandangan ke luar jendela. Dia menatap ke arah langit. Cerah. Subhanallah, indah ciptaan-Mu – Burung-burung berkicauan, tanda bertasbih kepada-Nya. Sang unggas bernyanyi riang, tanda memuji kepada-Nya. Segala yang ada di langit mahupun di bumi sujud pada keEsaan-Nya. Dalam asyik dia merenung keindahan ciptaan Tuhan, ada sesuatu yang mengusik kalbunya.

Cinta. Ya. Dia tahu dia masih muda remaja. Dia tahu masih banyak tanggungjawab yang harus digalasnya. Dia tahu masih banyak impian yang belum diraihnya. Dia tahu, umi dan abinya mengharapkan sesuatu daripadanya. Dia tahu perjalanan hidupnya baru bermula. Dia tahu dia tidak seharusnya leka dalam cinta dunia. Dia tahu dan dia mengerti segala-galanya. Namun, entah mengapa setiap kali dia cuba mengusir satu rasa yang bertamu di dada, tiap kali juga dia kalah melawan perasaannya.
Ya Allah, begitu kuat rasa itu hadir ke dalam kalbunya.
Apa yang perlu dia lakukan? Langkah apa yang perlu dia aturkan? Strategi apa yang perlu dia rencanakan?
Segala-galanya kelihatan suram. Segala-galanya kelihatan tidak berjalan. Hatinya kembali rawan. Mengapa dirinya tidak mampu melawan? Mengapa perasaannya seringkali kecundang? Mengapa hatinya seringkali bermusuhan dengan apa yang dia fikirkan? Hati dan akalnya tidak sehaluan.
Dia tidak mahu lemas dalam dakapan cinta yang melekakan. Dia hanya mahu lemas dalam dakapan cinta Tuhan. Tapi, makin kuat dia mencuba, makin kuat pula dia diduga.

Dia tahu, dia harus kuat menghadapinya. Dia tahu, dia harus melawan rasa cinta yang bertamu dalam hatinya. Dia tahu, dia harus mengusir rasa cinta pada manusia. Mengusir cinta bukan bererti membenci. Tetapi lebih kepada menjaga jarak antara dirinya dan dia. Hatinya cuma ada satu. Dia tahu, sakit rasanya apabila terluka. Pedih rasanya apabila kecewa. Pasti, dia akan berduka. Lalu, amanah yang dipertanggungjawabkan ke atasnya akan terbang dan hilang entah ke mana.
Dia harus memilih. Ya. Memilih sama ada dia mahu terus berfantasi atau menjejak realiti? Mahu terus berada dalam mimpi atau mahu menjejak bumi? Dia sedar. Cinta manusia itu adalah sesuatu yang tidak pasti. Cinta yang hakiki adalah berpaksikan pada DIA Sang Ilahi.
Dia juga sedar, kehidupan kini penuh dengan ujian Ilahi. Jika iman tidak terus diasah, maka dia akan tersungkur rebah. Jika akidah tidak terus dipelihara, maka dia akan terus bergelumang dengan dosa. Jika ilmu-Nya tidak terus diteroka, maka dia akan terus terleka dalam arus dunia. Dia juga sedar. Perjalanannya masih jauh. Banyak lagi yang harus ditempuh. Jika ujian sebegini dia tidak mampu menempuh, apatah lagi ujian lain yang mewajibkan imannya untuk terus teguh.
Dia nekad. Segala rasa cinta yang hadir sebelum waktunya perlu segera diusir. Bimbang pula hatinya akan terus terusik. Kini dia memegang pada satu prinsip!
“Cinta itu fitrah. Ilmu itu amanah. Iman itu perlu diasah. Maksiat itu perlu dicegah!”
Ashadu Anla Ilahailallah Wa Ash Hadu Anna Muhammad Rasulullah. Hanya padaMu Tuhan, aku berserah

Sabtu, 31 Agustus 2013

Kasih Ilahi

Usai kerja untuk hari itu. Siti Khadijah menarik nafas lega. Dia masih baru di syarikat itu. Tatkala diterima berkerja di situ, dia segera mengucapkan syukur. Terasa masih baru meninggalkan syarikat itu setelah beberapa bulan selesai menjalani latihan industri di situ, kini dia melangkah kembali sebagai seorang pekerja pula. Ketika masih ramai rakan yang belum mempunyai pekerjaan, Siti Khadijah sudah mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bidang yang dipelajarinya. Dia sangat bersyukur di atas nikmat rezeki itu.
Setelah hampir sebulan di situ, Siti Khadijah disapa Zayid, salah seorang pekerja di pejabatnya. Siti Khadijah tidak pernah menyapa Zayid ketika menjalani latihan industri dahulu. Menurut rakan sekerjanya, Zayid belajar di dalam bidang yang sama seperti Siti Khadijah. Siti Khadijah hanya mendiamkan diri. Tidak pula dia berminat untuk bertanyakan lebih tentang hal itu.
Jam sudah menunjukkan 5.35 petang. Dia bergegas mengunci pintu pejabatnya dan menuju ke surau. Ahh..masih belum Asar. Langkah kaki dihayun sepanjang- panjangnya. Tidak dipedulikan keadaan manusia di sekelilingnya. Dia menekan butang lift. Di dalam fikirannya hanya membayangkan tingkat 5, destinasi yang ingin ditujuinya .
Setibanya di sana, dia segera berwuduk dan menunaikan solat. Siti Khadijah sentiasa mencuba sebaik mungkin untuk solat di awal waktu namun adakalanya terlewat juga. Mujurlah, majikannya seorang Muslim yang prihatin tentang solat. Senang rasanya hati Siti Khadijah untuk bekerja di situ.
Ketika ingin pulang ke rumah, Siti Khadijah berpapasan dengan sahabat lamanya semasa di universiti. Amna namanya. Sejuk sungguh mata Siti Khadijah melihatkan penampilan Amna yang menutup aurat. Cantik sekali. Adakala tercetus perasaan iri melihat betapa tawaduknya Amna menutup aurat. Tidak seperti dirinya yang masih terkial- kial mengenakan pakaian yang labuh dan longgar .
Hanya sebentar perbualan mereka pada petang itu. Amna mengejar masa kerana dia ingin menghadiri program Usrah . Siti Khadijah termangu di situ sendirian.
Duhai diri.. betapa luasnya jurang antara dirimu dan Amna.
Dulu, Siti Khadijah biasa- biasa sahaja orangnya. Sekelumit pun dia tidak peduli tentang menutup aurat. Walaupun orangnya biasa- biasa sahaja namun dia sentiasa bertudung. Pernah ketika usianya belasan tahun dahulu dia ditegur emak apabila sepupu lelakinya bertandang ke rumah namun dia tidak menutup kepalanya dengan tudung. Rentetan itu, dia memandang berat keperluan untuk menutup kepala namun bahagian aurat yang lain masih juga terbuka. Siti Khadijah masih belum mengerti makna menutup aurat ketika itu.
Bertahun lamanya Siti Khadijah begitu. Seiring hari berlalu, dia melihat terlalu ramai kenalan di sekelilingnya mulai berubah mendekati Allah.  Dia terdetik ingin tahu. Hati Siti Khadijah sendiri terasa terlalu jauh daripada ketenangan sebenar. Meskipun agamanya Islam namun Siti Khadijah bukan seorang muslim yang patuh sepenuhnya kepada perintah Allah SWT. Masih terlalu banyak kekurangan pada dirinya yang mesti diperbaiki. Baginya, memenuhi amalan wajib seperti berpuasa, dan solat sudah mencukupi. Itu sudah membuatkan dirinya layak bergelar seorang Islam.
Bahkan tidak.. Siti Khadijah masih terlalu dangkal di dalam beragama. Dirinya masih terlalu jauh daripada mengecapi manisnya iman.
Siti Khadijah sentiasa berimpian untuk  menjadi seperti Amna. Baginya, Amna sempurna dalam beragama. Pernah disuarakan perasaan irinya melihatkan tawaduknya Amna menjaga batas-batas syariat namun Amna hanya tertawa kecil mendengarkan itu.
“Manusia hanya dibezakan dengan taqwa kepada Allah SWT. Amna pun tak sempurna, apa yang Khadijah nampak hanya dari satu sisi diri Amna je. Amna pun masih berusaha untuk membaiki diri. Sejujurnya Amna kagum dengan Khadijah. Khadijah sangat istiqamah dan tabah. Amna tahu, saat Khadijah buat keputusan nak berhijrah dulu, keputusan tu tak mudah. Namun, Amna bersyukur  tengok Khadijah sekarang. Sepatutnya Amna yang iri dengan Khadijah tau, bukan Khadijah iri dengan Amna .”
allah, love, ukhwah, iluvislam
Hatinya dihambat rasa sebak dek kata-kata Amna. Terasa malu menaruh rasa iri kepada Amna. Siti Khadijah tunduk meneleku lantai. Dia cuba untuk menahan air matanya daripada gugur. Sungguh kata-kata Amna ada kebenarannya. Tidak mudah keadaannya apabila dia membuat keputusan untuk berhijrah dahulu. Mujahadahnya pahit namun segalanya berbaloi kini. Siti Khadijah sangat merasai nikmat kemanisan setelah berhijrah.
Siti Khadijah masih teringatkan ejekan rakannya tika dia mula menjinakkan diri dengan sarung kaki, tika dia mula melabuhkan tudungnya. Mereka berkata Siti Khadijah mencuba untuk menjadi ustazah. Tika itu Siti Khadijah masih terkial-kial mencari pakaian yang sesuai untuk menutupi auratnya dan kebarangkalian cara berpakaiannya tidak kena pada pandangan mereka. Sesekali Siti Khadijah jauh hati juga dengan kata-kata mereka namun dia tetapkan hati.
Bukan kerana mereka Siti Khadijah menutup aurat!
Siti Khadijah mengesat air mata yang mulai bertakung di tubir matanya.
“ Ukhuwah fillah ya ukhti,” tutur Amna sambil memeluk Siti Khadijah. Air mata Siti Khadijah kian mengalir deras. Kristal jernih itu tidak mampu ditahan lagi. Tersedu-sedu Siti Khadijah menangis di dalam pelukan Amna.
ukhwah, iluvislam, hijrah
Siti Khadijah sentiasa tulus berdoa, semoga Allah SWT sentiasa melorongkannya ke jalan yang lurus. Seiring doa, Allah mudahkan jalannya. Digantikan pula rakan- rakan lama dengan sahabat- sahabat baru yang sentiasa mendorongnya untuk lebih taat kepada Allah SWT. Mudah rasanya hidup bersyariat.
Dia seperti berada di puncak kebebasan walaupun mata manusia yang memandang muslimah sepertinya ibarat terpenjara dek arus fesyen dunia. Terlalu kolot! Mungkin pada pandangan mereka menutupi aurat dengan berpakaian labuh dan longgar sudah sepatutnya ditinggalkan jauh namun hanya hati yang merasai manisnya iman tidak berpandangan sedemikian. Biarlah bertutup sempurna, hakikatnya hati terasa damai di dalam dakapan redha Allah SWT.
Mei 2013…
Saat Siti Khadijah mahu melangkah pulang dari tempat kerjanya, kedengaran namanya disahut daripada belakang.
Siti Khadijah menoleh ke arah suara itu.
“Oh kau Zayid. Ada apa panggil aku?”
Kelihatan Zayid tercungap- cungap menahan nafas. Penat benar lakunya Si Zayid menyaingi langkah Siti Khadijah.
“ Tak ada benda serius pun. Aku nak kau baca ni. Ambil la baca dulu,” ujar Zayid sambil menyuakan risalah itu kepada Siti Khadijah.
“ Risalah apa ni Zayid?” Kehairanan Siti Khadijah. Risalah kini bertukar tangan.
“ Kau baca la ye. Aku balik office dulu,” tergesa- gesa Zayid melangkah pergi tanpa sempat menerangkan apakah isi kandungan risalah itu  kepadanya.
Termangu-mangu Siti Khadijah. Hasrat untuk pulang kini terbantut.
Risalah yang sudah bertukar tangan dipandangnya lesu.
Siti Khadijah menyelak helaian demi helaian. Terlalu banyak risalah mengenai parti-parti politik yang bertanding di pilihan raya hadir menjengah saat ini. Masing-masing cuba mengangkat bahawa merekalah yang paling gah menjuangkan nasib bangsa dan agama dengan slogan yang pelbagai namun hakikatnya sesetengah daripada mereka hanya indah khabar dari rupa sahaja. Semakin dibaca semakin Siti Khadijah merasakan ada yang tidak kena pada risalah itu. Risalah itu ditutup cermat. Segera, matanya mencari Zayid. Dia ingin memulangkan risalah itu kepada Zayid kembali.
“Nah risalah ni Zayid. Tak nak la aku baca dah,” ujar Siti Khadijah sambil tangannya menghulurkan kembali risalah itu kepada Zayid.
Risalah itu kembali bertukar tangan.
“ Mana kau dapat risalah ni?” soal Siti Khadijah ingin tahu.
“ Aku dapat risalah ni masa sembahyang Jumaat tadi. Saja nak bagi kau baca. Nak tahu apa reaksi kau,” Zayid menerangkan.
“ Selamanya aku pilih Islam, Zayid,” tutur Siti Khadijah cuba menamatkan bicara.
“ Alhamdulillah,” Zayid melafazkan syukur tika mendengarkan butir bicara Siti Khadijah itu.
Zayid memandang kosong melihat Siti Khadijah melangkah pergi. Mukanya diraup perlahan. Saat itu, detik hatinya hanya Allah SWT yang Maha Mengetahui.
“ Siti Khadijah..bukan aku insan terbaik untuk menjadi pengemudi bahteramu  namun ya Allah, jika benar dia untukku, semoga dimudahkan segalanya”

[PenulisDhiahanum] [Editor : Mohd Kasim]

Berfikiran Positif Dan Optimis


Dunia seakan-akan gelap. Seolah-olah tiada lagi cahaya yang menyuluh. Apakah ini pengakhiran yang kita maukan?
Kejayaan adalah memaksimumkan potensi kita untuk merealisasikan matlamat utama kita dalam perjalanan hidup. Semua insan pernah gagal. Kerana gagal adalah guru.

Apabila kita berusaha untuk mencapai sesuatu, kita berjaya kerana kita tahu cara untuk mencapai matlamat kita. 
Bijak pandai pernah berkata, “Sama ada kita menjadi abu atau menjadi seekor merak, ia terpulang pada diri kita sendiri.”
Sebenarnya, hidup kita bukan sekadar bergantung pada setiap apa yang berlaku pada kita dan sekeliling, tetapi ia lebih kepada bagaimana kita memberi tindak balas terhadap apa yang berlaku.
Sayangi diri.
Buatlah sesuatu demi kebaikannya dan yang memberi manfaat buatnya.
Ia bukan bermakna pergi spa 30 hari sebulan, tetapi lebih dari itu.

Kisah Guru Dan Murid
Seorang guru pernah bertanya pada anak muridnya, “Adakah kamu semua menyayangi diri sendiri?”
Dan para murid menjawab, “Ya! Kami sayang diri kami!”
Ujar guru itu, “Bagaimana cara kamu semua menyayangi diri sendiri?”
“Belajar sungguh-sungguh!”
“Jaga hati!”
“Pakai topi keledar!”
Maka kata si guru,
“Benar. Tetapi ia lebih dari itu. Terimalah diri kamu, tiada manusia yang sempurna. Hormatlah maruah kamu, ia tidak pernah meminta untuk diragut melainkan kamu yang membiarkannya. Berikan galakan kepada diri kamu, galakan orang lain tidak cukup buatmu. Rancangkan kejayaan buat diri kamu, jangan biar diri kamu gagal kerana kegagalan yang diterima.”
Boleh menangis, menyesal, menjerit sekuat mungkin kerana meratapi kegagalan yang diterima. Tetapi pada esok hari, kamu harus bangun tidur dengan segar dan hilangkan segala kesedihan.
Kenapa?
Kerana berabad-abad sekalipun tangisan dan kekecewaan ia tidak akan merubah apa-apa. Ambil separuh untuk dijadikan iktibar dan ambil separuh untuk dijadikan pendorong.

Kisah Lelaki dan Jadual Penerbangannya
Seorang lelaki mengejar penerbangannya, saat tiba di lapangan terbang, penerbangannya terpaksa dilewatkan kerana kerosakan pada bahagian tertentu. Tetapi dia tidak marah. Katanya, “Bagus!”
Maka orang di sekelilingnya hairan. Bukankah sepatutnya lelaki itu marah.
“Mereka mengambil berat akan keselamatan kita. Bukankah ia bagus?”
“Tetapi.. sukarlah untuk kita mendapatkan penerbangan berikutnya. Kerana kita terpaksa menunggu dengan begitu lama. Sedangkan sekarang kita sedang mengejar masa!”
“Bagus!”
Dan orang di sekelilingnya bertambah hairan.
“Kenapa bagus?”.
“Kerana saya dan semua orang dapat bersantai-santai terlebih dahulu. Cuaca di luar sana sangat tidak menyenangkan. Sedangkan kita di sini berada dalam keadaan nyaman dan selesa. Terdapat beberapa buah kusyen empuk di hujung kaunter. Terdapat makanan dan kopi panas di kafeteria. Jadi saya akan memanfaatkan peluang ini, kerana saya sering tidak cukup masa selama ini. Sekarang saya dapat membaca majalah kegemaran saya terlebih dahulu.”
Dan orang sekelilingnya merasa kagum dengan lelaki itu. Seraya berkata, “Hebat!”
Itulah dia. Tabiatnya yang positif akan mempengaruhi kelakuan, kata-kata dan pastinya keputusan. Ia memberitahu dunia bahawa sikap positif penting dalam kehidupan. Apa sekali pun tujuan kita, fikir positif. Sentiasa positif dan optimis!
Saya tertarik dengan kata-kata Tan Sri Syed Mokhtar Al-Bukhari yang terdapat dalam sebuah buku motivasi “Menuju Kejayaan.”
“Saya ini kata orang Kedah, lebai kodok bukan lebai pondok. Tapi saya tahu hal-hal asas. Kalau mahu, saya terus minta dari Tuhan. Tuhan beri manusia akal dan fikiran. Kalau hendak pakai baju biarlah padan dengan badan. Jangan jadikan agama hanya satu tempat untuk kita bergantung apabila kita susah.”
- Artikel iluvislam.com